Pertama-tama, Manhaj Salaf itu bisa disebutkan sebagai pengikut orang-orang yang terdahulu terutama zaman Rasulullah ﷺ, sahabat, dan tabi'in dan memegang teguh Al-Qur'an dan hadits. Dalam dakwahnya, ulama Salaf selalu menekankan untuk menghindari dan menjauhi bid'ah karena tidak pernah dilakukan di zaman Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Mereka biasanya mem-bid'ah-kan kegiatan-kegiatan seperti Maulid Nabi, Ziarah Kubur, Yasinan, dll.
Lalu NU, menyebut akhlak mereka mengikuti Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja). Aswaja menurut K.H Hasyim Asy'ari adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli fikih, dan mengikuti sunnah Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Dalam masalah akidah, mereka selalu menengahi dua pendapat yang bertentangan, menggabungkan dalil Naqly (Al-Quran dan Hadits) dan Aqly (Ijma dan Qiyas), dan mengamalkan ajaran tasawuf. Kelompok inilah merupakan salah satu penyebar agama islam di Nusantara pada zaman kerajaan Hindu-Buddha. Supaya agama Islam dapat diterima oleh masyarakat, mereka membiarkan tradisi yang diajarkan Hindu-Buddha namun beberapa isi tradisinya diganti dengan hal-hal yang islami seperti halnya selametan, syukuran, dan beberapa tradisi-tradisi yang beredar di masyarakat lainnya. Hal ini menimbulkan akulturasi antara Islam dan kebudayaan lokal sehingga kebanyakan budaya di Nusantara memiliki unsur-unsur Islami akan tetapi tidak ada tradisi seperti itu dalam Islam sama sekali.
Hal-hal yang seperti itu merupakan hal yang baru dan tidak diajarkan sama sekali sehingga dianggap sebagai bid'ah. Akan tetapi menurut ulama Aswaja, bid'ah sendiri terbagi dua yaitu bid'ah baik dan bid'ah buruk. Bid'ah baik adalah hal yang baru akan tetapi tidak bertentangan dengan syariat agama, sedangkan Bid'ah buruk adalah hal yang baru dan bertentangan dengan syariat agama. Namun menurut para salaf bid'ah sama sekali tidak terbagi dua, bid'ah tetap bid'ah. Perbedaan pemahaman inilah menimbulkan konflik secara tidak langsung antara Aswaja dan Salaf, dan pastinya memunculkan kelompok fanatik yang saling memfitnah dan menyerang satu sama yang lain.
Menurut saya, perbedaan pendapat ini merupakan hal yang wajar. Benar dan salah bisa kita teliti bersama, mungkin dengan pertemuan ulama-ulama se-Indonesia atau sedunia untuk membahas masalah ini, atau menggelar debat secara terbuka antara Aswaja dan Salaf. Justru yang perlu dihindari adalah dakwah-dakwah yang saling menyerang satu sama yang lain, ada yang mengolok-olok Aswaja maupun sebaliknya. Hal inilah yang menjadi masalah bagi umat muslim di Indonesia, terlalu sibuk konflik satu sama yang lain sehingga melupakan akan kemajuan dan kebutuhan umat muslim yang sebenarnya. Terserah jika ingin mengikuti dakwah Aswaja atau Salaf, itu terserah, hanya saja jangan saling menyerang dan membenci, karena jika kebencian yang kita gaungkan lama-lama akan menjadi masalah besar dan bahkan menimbulkan perang saudara.
No comments:
Post a Comment